PUISI

Lembanyung Senja – Mengagumi Sebatas Senja

LembayungSenja : 5 Januari 2017 2:04 pm : puisi

Mengagumi Sebatas Senja

 

Dia kemana aku tertuju

Disana, adalalah saat aku menunggu

Dialah arah aku berlari

Disini adalah saat aku menanti

Dia dimanalah pengharapanku

Disenja itulah aku mulai merindu

 

Akulah senja tanpa manis cahaya siluetnya

Sepadan purnama pada malam penghabisannya

Aku ada, aku terhiraukan.

 

Hanya dengan lapis udara dingin

Tuhan sempurna mentakdirkanku.

Membuatku semudah dandelion menerbangkan bunganya

 

Karena bagiku, sedikit simpul senyum bibirmu

Menghalau sudah gelisah kemarin malam

Melumpuhkan sudah akal sehatku

Dan kini aku sempurna membawamu

Menyimpanmu, sebatas mengagumimu bersama khayalku

Leave a response »

Lembayung Senja – Rindu Membawa Hujan

LembayungSenja : 2 Januari 2017 7:23 pm : puisi

Rindu Membawa Hujan

 

Seperti gerimis menitik membawa hujan

Tanah basah memperparah genangan air

Sunyi berselimut kabut hujan

Yang ada hanya gemericik deras mengalir membendung mata

 

Rindu yang bergelayut dirasakannya semakin berat

Rindu yang enggan lepas dari awan hitam

Disana terus menggantung memperlambat langkahnya

Hingga ia terhenti pada satu titik

Titik dimana rintik memanggilnya menjadi hujan

 

2 Comments »

Lembayung Senja – Cinta Adalah

LembayungSenja : 2 Januari 2017 7:21 pm : puisi

Cinta Adalah

 

Membeku seperti seharusnya salju

Dingin yang pekat semakin mengikat

Tajam melukai hati yang seharusnya utuh

Luka yang takkan benar-benar hilang

Hanya tenggelam diterka malam

Namun luka membawa cerita

Cerita yang akan mencairkan kerasnya awan menjadi hujan

Karena cinta adalah keajaiban

Keajaiban yang mengubah benci menjadi peduli

 

Membara seperti seharusnya api

Gemuruh kian mengaduh kesakitan

Menghanguskan kesetiaan yang singgah

Hangus bukan berati hilang

Hanya sebuah penyamaran untuk manikam kekalapan

Karena cinta adalah keajaiban

Tak butuh alasan mengapa tetap singgah

Di tengah bara cinta yang membara dipelukkan kasih

 

Mengalir tenang seperti halnya air

Diamnya menghanyut memicu pertikaian

Pertikaian yang bermuara pada sebuah janji

Janji yang tersiratkan diatas genangan air

Nampak tak ada

Bening, hanya awan yang mampu berkaca.

Karena cinta adalah keajaiban

Maka bukan janji yang dibicarakan

Hanya sebuah naluri yang mendasari cinta.

2 Comments »

Lembayung Senja – Kastil

LembayungSenja : 2 Januari 2017 7:18 pm : puisi

Kastil

 

Merekah gundah anganku berlabuh

Sayup-sayup kurengkuh sisa mimpi hari kemarin

Pagi ini mentari lolos menerjang awan

Menyelinap masuk jendela kamar tidurku

Dan aku mulai berpijak

Melengkapi puzzle mimpi yang masih tersamarkan.

 

Luka yang belum pernah mengering

Selaras aku bersikeras menumpuk hinaan semakin menjadi.

Kubuat air mata untuk ku jadikan pelepas dahaga kerinduan

Kastil yang tercinta, kau masih belum milikku.

 

Mari bersulang ditengah gemerlapnya predator

Hati boleh jadi goyah diterpa topan

Namun sulut api cinta yang berkobar

Takkan padam digenggam keraguan

Mari menerjang walau pedang melintang

Tekad berlapis cinta lebih kuat walau ditebas sekalipun

Desah angin berhembus lembut menggebrak pintu kastil

Kini, mimpi telah usai menggantarkan kastil pada ratunya.                                                                                                   

Leave a response »

Lembayung Senja – Aku bersama rinduku

LembayungSenja : 2 Januari 2017 7:09 pm : puisi

Aku bersama rinduku

 

Karena pada setiap pagi motorik senyumku kalut membentur hujan semalam.

Lebih tepatnya aku berada pada keterpurukan tanpa sapaan.

Mungkin akan terasa bahagia saat cahaya matahari mulai membentur kaca kamar tidurku telah terhidangkan semangkuk semangat bertuliskan namaku.

Namaku, serangkaian sandi sederhana yang mencoba tegar tanpa sandaran.

 

Jika bukan karena hati begitu mendayu-dayu.

Tidaklah hal mustahil, kini aku terlihat menyedihkan terbata memanggil namamu.

Dan kini lihatlah aku, aku yang tengah berada dibawah kendalimu.

Menumpuk rindu disemua sela-sela ruangku, terus dan terus hingga tak ada lagi ruang untuk aku dapat menumpuknya.

Karena sesungguhnya, rinduku hanyalah sebatas ruang kecil dihatimu.

Namun, sesulit inikah aku membuat ruang untuk menyimpan hebatnya rindu untukmu.

 

Dan ketika rindu telah pergi bersama senja

Bersama malam ini harapan tenggelam

Tak lagi mencua tulusnya pengharapan yang telah terabaikan.

 

Dan dengarlah ini, cerita pagiku.

Cerita rinduku yang baru saja mulai kuncup bersama hujan.

Namun secepat itulah kamu memangkas bunganya dan mengabaikan daun yang tertinggal.

Aku bersama rinduku.

Leave a response »
« Page 1 »

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *